Kunci Public Relations masa depan adalah Partisipasi, bukan Pitching

31 03 2008

PR masa depan akan tergantung kepada keterampilan memanfaatkan Web 2.0.

Model komunikasi horizontal seperti terlihat pada facebook, friendster, flickr, blog dan pemanfaatannya dalam citizen journalism akan menjadi media paling efektif dalam menyampaikan pesan-pesan PR.

Kalau corporate website, portal berita dan beragam situs informasi membuktikan kegunaan Web 1.0, maka komunikasi lintas pemakai akan menambah kekuatan PR melalui Web 2.0 yang mengintegrasikan komunikasi warga dengan networking, collective intelligence, long tails.

Dengan cara ini masa depan PR ada pada partisipasi atau gaul dalam masyarakat, bukan pada pitching. Dikatakan oleh Steve Rubel:

‘the PR community must step out in front of the curtain, become a bit more technically adept and participate transparently as individuals in online communities. We will have to openly collaborate and add value to the network and help the companies we represent do exactly the same.’

Selengkapnya >>  klik disini





Tugas-Tugas Inti Seorang PR

31 03 2008

Bagi sebagian orang, Public Relations Officer, Public Relations Specialist–yang biasa dikenal dengan nama PR, cenderung disamakan dengan profesi Hubungan Masyarakat (Humas). Well, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru, walaupun tidak juga tepat sekali. Hal ini tergantung dari sudut pandang dan opini publik yang sudah terlanjur menancap di masyarakat, bahwa humas pada dasarnya “hanya” bertindak sebagai “tukang siar”, yang jalinan kerjanya biasanya erat berkaitan dengan media massa. PR, pada kenyataannya, lingkup kerjanya tidak hanya terbatas pada menjalin hubungan dengan media massa.  

Berikut kami sajikan deskripsi kerja seorang PR, mudah-mudahan dapat memperbaiki anggapan-anggapan kurang tepat mengenai profesi yang sebenarnya sangat kompleks ini.

“Public Relations itu sangat luas artinya,” ujar sumber CyberJob, Siska Widyawati, yang pernah mengecap pengalaman 5 tahun sebagai seorang PR di sebuah agensi periklanan besar di Jakarta Pusat. Di sana (Amerika-Red), hampir di setiap perusahaan memiliki seorang PR, karena mereka sudah mengerti betul seluk beluk tugas seorang PR. Tapi di Indonesia, PR biasanya hanya dimaknai sebagai tenaga marketing, atau sebagai juru siar.

Tugas-tugas inti seorang PR

“Public relations bukan hanya seorang juru siar,” ujar Siska. Berikut Siska memaparkan beberapa job description PR yang disebutnya sebagai “nature of work“. 

1.  Reputasi, keberuntungan, bahkan eksistensi lanjutan dari sebuah perusahaan, dapat bergantung dari keberhasilan PR menafsirkan target publik untuk mendukung tujuan dan kebijakan dari perusahaan yang bersangkutan. Seorang PR specialiast menyajikan hal tersebut sebagaimana halnya seorang penasihat dalam bidang bisnis, asosiasi non-profit, universitas, rumah sakit dan organisasi lain. Selain itu, mereka juga membangun dan memelihara hubungan positif dengan publik. Baca entri selengkapnya »





Jangan Terlalu Bertele-Tele

31 03 2008

Sedikit flash back ke jaman kuliah, ingatkah Anda pada kantuk yang sering tidak bisa ditahan saat ikut kuliah dosen yang bertele-tele? Atau ingatkah Anda betapa sebalnya saat menghadiri meeting dan boss Anda menjelaskan sesuatu dengan bertele-tele? Padahal point yang dibicarakan bisa dengan jelasnya dan gamblangnya dituturkan.

Tidak ingin menjadi orang yang bicara berputar-putar seperti dosen dan boss Anda diatas kan? Coba telaah kembali diri Anda. Jangan sampai gaya bicara dan cara menjelaskan yang bertele-tele itu malah Anda pelihara juga. Sifat yang satu ini bisa membuat orang menjauh dari Anda serta menghambat karir dan pekerjaan.

Bila Anda sendiri tidak tahu, apakah Anda termasuk jenis yang tidak bisa to the point dan cenderung bertele-tele, coba cek beberapa hal berikut. Bila terdapat dalam diri Anda, atau sering merasa melakukannya, lebih baik dikontrol dari sekarang ya..

Mengulang perkataan
Merasa sering mengulang perkataan, cerita ataupun komentar? Ini salah satu ciri-cirinya! Sedapat mungkin hindari mengulang-ulang komentar atau pendapat yang Anda sampaikan, kecuali bila lawan bicara tidak mendengar atau menunjukkan gelagat tidak mengerti. Setelah mengulang, lanjutkan pembicaraan.

Mengulang pendapat orang
Jangan mengulang pendapat yang telah diutarakan sebelumnya oleh rekan Anda. Ini mungkin sering terjadi saat meeting atau berdiskusi. Sebisa mungkin carilah ide baru yang fresh. Percayalah, tidak ada orang yang ingin mendengarkan hal yang sama diulang-ulang kembali, walaupun sekilas ‘kemasannya’ berbeda. Baca entri selengkapnya »





Sistem manajemen kualitas Malcolm Baldridge

2 03 2008
oleh: Nilna Iqbal – Pustaka Nilna

Bagaimanapun, keunggulan bukanlah kepandaian. Keunggulan adalah semangat yang menguasai kehidupan dan jiwa kita. Keunggulan adalah proses yang tak pernah berakhir yang memberikan kepuasan tersendiri. Keunggulan adalah hasil dari kemampuan belajar kita, kemampuan menanggapi keadaan sekeliling dalam cara-cara yang produktif.

Sistem manajemen kualitas MBPE (Malcolm Baldridge Performance Excellence) diperkenalkan dan diterapkan sebagai guideline bagi perusahaan untuk menjadi perusahaan yang unggul atau excellence dalam era persaingan global ini.

Sistem ini pertama sekali diciptakan oleh US Congress pada tahun 1987 dibawah Public Law 100-107, sebagai penghormatan kepada Malcolm Baldridge, Commerce Department Secretary, yang meninggal dunia pada tahun 1987. 

Penghargaan MBNQA (Malcolm Baldridge National Quality Award) diberikan setiap tahun kepada berbagai organisasi dan perusahaan yang diserahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat.

Saat ini MBNQA berada dibawah tanggungjawab the National Institute of Standards and Technology (NIST), Departemen Perdagangan AS. Paper tentang MBNQA dapat didownload gratis dari http://www.quality.nist.gov

Ada 7 kriteria yang dinilai dan dijadikan acuan dalam mengelola kinerja perusahaan, yaitu:
(1) kepemimpinan,
(2) perencanaan strategis,
(3) fokus pasar dan pelanggan,
(4) informasi dan analisis,
(5) fokus sumber daya manusia,
(6) manajemen proses, dan
(7) hasil-hasil bisnis.

Ke-tujuh kriteria MBPE tersebut sesungguhnya dibangun berlandaskan pada 11 nilai inti dan konsep. Maka, dalam kesempatan tulisan pendek ini, kita akan review sekilas nilai-nilai inti (core values) tsb. Baca entri selengkapnya »





CKR (Corporate Knowledge Responsibility)

1 03 2008

oleh : Adhiyan Wahyudi

Perusahaan-perusahaan sudah banyak yang mulai insaf dengan membuat program-program kemasyarakatan. Mulai pemberdayaan usaha kecil dan menengah, pengentasan kemiskinan atau juga program-program konservasi lingkungan.Semuanya terangkum dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) atau kalau di Indonesiakan:Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

Pada program CSR, perusahaan selaku pemegang kewajiban memiliki suatu daya guna bagi masyarakat sekitarnya.Daya guna ini penting agar tidak terjadi ironi dimana disitu terdapat perusahaan yang memiliki sumber profit yang tinggi disisi lain yaitu masyarakat disekitarnya tidak merasakan kegunaan dari keberadaan perusahaan.Atau boleh dikatakan: masyarakat tetap miskin.

Tetapi sebagai bangsa yang bercita-cita menjadi bangsa yang makmur , ketercukupan secara ekonomi tidaklah cukup.Kesejahteraan secara fisik tidaklah memadai.Dua tahun , sepuluh tahun memang kesejahteraan bisa menjadi manfaat tetapi bagaimana dengan lima puluh tahun mendatang.

Perusahaan-perusahaan asing berdiri di Indonesia karena faktor murahnya tenaga kerja.Dengan biaya yang tidak terlalu banyak atau boleh dikatakan cost production yang dikeluarkan bisa minimal banyaklah perusahaan-perusahaan asing di Indonesia.Tetapi siapa yang bisa menjamin perusahaan itu tetap berdiri di Indonesia.Freeport,Inco,Inalum, Newmount dsb merupakan perusahaan asing yang bisa kapan saja pergi dari negeri ini.

Kasus salah satu pabrik sepatu yang beberapa bulan lalu sempat ramai mungkin bisa menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.Dengan semena-mena mereka hampir saja membuat banyak tenaga kerja kita yang menganggur.Walaupun mungkin alasan yang mereka kemukakan benar tetapi dari segi kemanusiaan apakah mereka pernah memikirkan.Apakah ada di hati mereka perasaan bahwa para pekerja merupakan patner atau bahkan saudara mereka,pastinya tidak.Mereka tetap saja menganggap kita sebagai budak. Baca entri selengkapnya »