“Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.” (HR. Ath-Thabarani dan Ash-Shihab)
Tak dapat dipungkiri, sampai saat ini masih saja ada beberapa penilaian dan pandangan “miring” sebagian masyarakat Islam, tentang bisnis. Semua pandangan ini, menurut Muhammad Ali Haji Hashim dalam bukunya Bisnis Satu Cabang Dari Jihad, terbitan Pustaka Al-Kautsar, sesungguhnya bersifat antifitrah dan antibisnis.
Pandangan-pandangan negatif itu, antara lain sebagai berikut:
1. Mengejar keuntungan dan harta kekayaan dunia melalui bisnis bertentangan dengan ajaran Islam.
2. Mengejar kesuksesan bisnis tidak harus diutamakan dalam mencari kesempurnaan hidup dunia dan akhirat.
3. Tidak ada hubungan antara bisnis dengan beribadah dan beramal shalih.
4. Bisnis, harta kekayaan dan uang adalah puncak utama segala maksiat dan kepincangan dalam masyarakat.
5. Tidak ada hubungan antara bisnis dengan kewajiban menuntut dan meningkatkan ilmu pengetahuan.
6. Waktu yang digunakan untuk beribadah di masjid (selain ibadah fardhu) lebih bermanfaat dan menguntungkan dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk bekerja menyukseskan bisnis, baik milik perusahaan atau sendiri.
7. Menghadiri majlis ilmu, khususnya ilmu agama, lebih mulia derajatnya daripada bekerja dan mengusahakan bisnis. Asumsinya, tak ada kebaikan dan amal ibadah yang dapat direalisasikan melalui bisnis. Tak ada manfaat ilmu yang bisa diperoleh melalui bisnis.
Anjuran-anjuran antibisnis seperti ini selalu disampaikan secara tidak langsung melalui kiasan, sindiran atau cerita sinis yang sering disisipkan dalam ceramah, kuliah dan majlis ilmu yang lazim diikuti.
Ungkapan-ungkapan ini malangnya tidak diikuti oleh penjelasan tentang adanya ruang dan kesempatan bagi bisnis yang dibenarkan oleh Islam untuk umatnya.
Dengan antusias, para mubaligh berpesan agar umat Islam lebih kuat beribadah dan lebih teguh pada keimanan. Seringkali anggota masyarakat diremehkan, terutama yang bekerja terus menerus dan gigih dalam menyukseskan bisnis. Mereka digolongkan dalam kelompok yang “mengejar dunia” dan “menomorduakan akhirat“.
Yang lebih aneh lagi, pandangan-pandangan itu pun ternyata banyak pula menyelinap di kalangan para pebisnis sendiri, sehingga terkadang muncul perasaan bersalah, perasaan malu, tidak nyaman, ataupun dalam bentuk-bentuk ungkapan apologis.
Prasangka bahwa bisnis adalah usaha yang rendah nilainya, ataupun tuduhan “materialistis”, kebendaan dan “keduniawian” tampaknya perlu perhatian dan penelitian yang lebih teliti, sehingga persepsi-negatif ini benar-benar bisa disingkirkan dari benak para pebisnis muslim. Karena tanpa keberhasilan menghapuskan persepsi ini, dan tanpa berpikir realistis, seorang pebisnis akan kalah dalam medan pertarungan dan persaingan, bahkan sebelum bertanding.
Padahal Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang jelas menyatakan bahwa, “Pedagang yang jujur dan amanah (akan ditempatkan) beserta para nabi, shiddiqin dan para syuhada!” (HR At-Tirmidzi)
Rasulullah pun bersabda bahwa “sembilan per sepuluh sumber rezeki terdapat pada bisnis” (HR At-Tirmidzi)
Bagaimana menurut Anda?
sumber: PustakaNilna.com







Menurut saya, sangat mungkin sekali bahwa ajaran yang diajarkan tersebut memang benar, tapi janganlah memandang segala sesuatu terlalu berlebih…bahkan menurut hemat saya suatu ajaran selalu memiliki persepi yang berbeda apabila ditangkap dan diterjemahkan oleh si manusia….bagaimana si manusia tersebut berpikir….
Bisnis merupakan suatu hal yang luar biasa, kita sebagai manusia tidak bisa meninggalkan hal2 yang duniawi dan semata-mata hanya berpikir yang agamis…hipud merupakan realitas..tentang bagaimana manusia bisa hidup dengan baik serta memiliki amal kasih kepada seseorang….
Bukan berarti orang yang tidak berbisnis bisa dikatakan lebih mulia atau lebih memikirkan hal-hal yang akhirat…Justru menurut saya bisnis harus dlandasi dengan kebaikan dan kejujuran sehingga bisnis malahan membawa berkah bagi orang2 yang terlibat tentunya….Misalnya saja adanya lapangan kerja, pebisnis yang perhatian jg akan memperhatikan nasib karyawannya..toh mereka jg yang menjadi mata tombak usaha mereka…
Jadi menurut saya segala hal harus dipandang dengan bijaksana, bahwa hal yang duniawi dan akhirat tidak terpisahkan..semuanya hanyalah merupakan media agar bagaimana manusia bisa kembali ke pencipta-Nya.
nilai dari amal perbuatan tergantung niat, dan semua amal perbuatan ada pertanggungjawabannya. kalo berbisnis dengan niat lurus dan harta yang didapatkan di pergunakan pada jalan yang lurus, Insya Allah selamat dunia akhirat. Begitu mungkin.
Trus, kalo gak salah ada (hadits apa bukan yah?), “9 dari 10 pintu rezeki ada pada perniagaan”. berarti perniagaan sesuatu yang sangat penting, dengan syarat sesuai dengan nilai-nilai islam.
dan “ALLAH menghalalkan JUAL BELI dan Mengharamkan RIBA.”