Editor Dalam Baskom

16 10 2008

oleh  Bambang Trim

Peran editor dalam dunia perbukuan di Indonesia sudah tidak dapat dikesampingkan lagi. Sebelumnya pada tahun 80-an, peran editor belumlah begitu dilirik. Para penerbit masih mengandalkan penulis untuk ikut berkontribusi memeriksa naskahnya sebagai editor maupun sekadar korektor (proofreader). Barulah pada pertengahan 90-an, editor benar-benar dianggap harus ada dan keberadaannya dibutuhkan karena makin maraknya dunia perbukuan Indonesia serta kesadaran akan peningkatan kualitas buku.

Popularitas editor yang terkerek naik juga tidak dimungkiri karena andil berdirinya Program Studi D3 Editing di Unpad pada 1988 dan diikuti Polikteknik Negeri Jakarta (dahulu Poltek UI) yang membuka program penerbitan. Para lulusannya berkiprah di beberapa penerbit besar dan menyuntikkan pemahaman baru tentang editologi serta ilmu penerbitan.

Lalu, bagaimana dengan penghasilan para editor? Saya termasuk editor yang merintis karier pada pertengahan 90-an. Sungguh gaji editor saat itu tidak begitu jauh dengan gaji staf lainnya. Sebelum krisis, editor bergaji antara Rp300 ribu hingga Rp600 ribu dalam pasaran Bandung dan Jakarta. Pascakrisis tahun 2000-an, gaji editor ikut terangkat naik antara Rp800 ribu hingga kemudian peningkatan skill dan bargaining position yang semakin kuat, editor pemula bisa masuk dalam baskom alias barisan satu koma. Gaji editor pemula dimulakan dengan angka Rp1,1 juta hingga Rp1,5 juta untuk saat ini. Para senior editor ataupun managing editor kini bisa mengantongi gaji Rp2 juta hingga Rp5 juta untuk pasaran Bandung dan Jakarta.

Apakah kondisi ini memuaskan? Tentu dalam konteks peran dan posisinya yang strategis, gaji editor di Indonesia saat ini masihlah dalam batas minim karena umumnya hanya sekitar 30%-50% di atas upah minimum. Padahal, seorang editor kini dituntut memiliki keahlian dan keterampilan tidak hanya di bidang bahasa, tetapi juga di bidang desktop publishing, penulisan, negosiasi, komunikasi (public speaking), bahkan manajemen.

Di sisi lain, pada kenyataannya memang belum ada standar atau sertifikasi untuk kemampuan editor sehingga editor kemudian layak (menurut saya) memiliki rate atau gaji di atas Rp2 juta untuk pemula. Hal inilah yang kemudian menjadi komitmen Forum Editor Indonesia untuk segera mendata para personel editor dan kemudian menawarkan sertifikasi editor Indonesia bekerja sama dengan badan formal pemerintah, seperti Pusat Bahasa dan Pusat Perbukuan. Masalahnya kerapkali editor menuntut penghasilan besar, tetapi belum memahami betul profesionalitas, bahkan dasar-dasar editologi sebagai acuan kompetensinya.

Tarif Editor Lepas
Tidak jauh dengan gaji editor tetap, tarif editor lepas di Indonesia pun masihlah belum dapat dikatakan besar. Tarif editor dalam pengertian melakukan mechanical editing kini berkisar antara Rp5.000-Rp7.000 per halaman. Tarif ini lebih rendah lagi untuk proofreader atau korektor yaitu antara Rp-Rp3.000-Rp4.000. Jikalau dilakukan editing standar dengan mechanical editing dan substantive editing, harga itu bisa mencapai di atas Rp10.000 per halaman. Tidak ada tarif resmi yang standar dari para editor lepas ini karena kadang-kadang hanya dikira-kira saja.

________________
ABOUT BAMBANG TRIM
Praktisi perbukuan nasional. Kini menjabat sebagai Direktur SALAMADANI PUSTAKA SEMESTA, Dosen Luar Biasa Editing Unpad, dan Ketua Forum Editor Indonesia. Kontak: HP 08121466193;
e-mail: bambangtrim@yahoo.com| blog : http://www.bambangtrim.com


Tindakan

Information

2 tanggapan

23 05 2009
Gappizses

hmm. informative..

27 10 2009
Bayu Probo

Dengan gaji segitu tentu editor tidak mampu membeli buku yang ia edit sendiri (walaupun biasanya ia mendapatkan contoh terbit gratis). Ironis.

Tinggalkan sebuah tanggapan