INIKAH NEGERIKU ?

1 12 2008

Ada apa lagi tentang bangsa ini? Mengapa sangat sulit untuk diajak maju. Selalu saja ada “rasa itu”, ketika melihat saudara atau tetangganya sukses. Sebenarnya hal itu normal saja, tapi pada sebagian orang dan mungkin pada umumnya yang tidak kuat imannya akan terjerumus pada sifat pendengki dan iri untuk dapat menjatuhkan kesuksesannya.

Padahal toh tidak ada gunanya buat yang menjatuhkan apalagi yang dijatuhkan. Bahkan sama-sama rugi. Bagi yang masih normal pikirannya, toh rejeki itu sudah ada yang mengatur kita tinggal menjalani, ikhtiar dan doa.

Lebih baik kita bersama-sama maju untuk membangun bangsa ini agar tak jauh tertinggal dengan bangsa lain. Bukan rasa egoisme yang harus maju, tapi rasa kebersamaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Tak perlu melihat bangsa lain yang sudah makmur dengan kebijakan ekonomi yang cenderung menyimpang dari apa yang sudah disyariatkan dalam agama.

Bukankah riba itu dilarang? Tapi mengapa justeru dalam perekonomian kita, riba menjadi acuan utama dalam laju mutlak perekonomian? Tak adakah kebijakan lain yang lebih “jelek” dari ini. Terkadang hasil dari riba yang tak seberapa itupun menjadi santapan para koruptor berdarah dingin bak tikus dalam kantor seperti yang pernah dinyanyikan oleh seorang musisi ulung.

Anehnya mereka justeru tertawa melihat hukum yang mandul. Bukannya mereka seharusnya menangis meraung-raung untuk menjalani hukuman pancung. Atau harus menunggu hukuman setengah abad bagi para pencuri ayam dilaksanakan, sedang para tikus itu paling cepat menjalani hukuman semalam tidur di sarangnya, besok kembali lagi menghirup uang rakyat.

Pilkada, Pilpres, Pil atau Wil. Sepertinya berita tentang bangsa ini hanya 20% yang patut untuk didengarkan, karena yang lain isinya negatif saja. Atau bagaimana seandainya pers dibubarkan saja? Jadi moral bangsa ini bisa benar-benar kelihatan. Apakah mereka memang benar-benar begitu atau hanya pengaruh dari media massa yang membuat kepribadian mereka berubah. Kadang pers juga harus instrospeksi tentang penyiaran yang telah dilakukan, bukannya malah meng-HAM kan kebebasan pers yang ujung-ujungnya keblablasan pers.

Lihat saja. Dari kasus Pilpres, memang pers berpengaruh penting dalam kondisi ini, yaitu memberikan informasi kepada rakyat selama proses pemilihan umum (Pemilu). Tapi sebaiknya pers juga tidak memberikan “bumbu-bumbu” supaya terlihat sedap, gurih dan renyah, karena mungkin hal ini akan mengganggu jalannya proses dari Pemilu itu sendiri.

Penulis:
Name: Kelixo de Ramirez
Email: kelixo@gmail.com
Website: http://ww.acilovin.co.cc


Tindakan

Information

Satu tanggapan

8 12 2008
Mickle

If you want to learn finance then here is a great place.
specialized organization in Training (distance learning, workshops, corporate training and seminars) and Conlsultancy services (Islamic finance product development, vetting, auditing, etc) in the areas of Islamic Banking, Islamic Finance and Takaful. Click Below
Learn Finance

Tinggalkan komentar