<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL INTERMEDIA</title>
	<atom:link href="http://internalmedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://internalmedia.wordpress.com</link>
	<description>Jurnal Profesi Komunikasi dan Media</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Jun 2009 15:34:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/fd7beac59da78858a731a6f9caa6452b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JURNAL INTERMEDIA</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Berhentilah Bermimpi!</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2009/06/23/berhentilah-bermimpi/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2009/06/23/berhentilah-bermimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 15:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mindset]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[stop dreaming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/2009/06/23/berhentilah-bermimpi/</guid>
		<description><![CDATA[“Stop Dreaming, Start Action” Itulah kira-kira yang sedang banyak dikampanyekan berbagai blog saat ini. Pencetusnya adalah Jokosusilo.com 
Stop dreaming? Apakah maksudnya berhentilah bermimpi? Bukankah bermimpi itu wajib, kalau kita ingin hidup di atas rata-rata? Bukankah hanya impian yang membuat diri kita kuat, bertahan, tak mudah menyerah, tak takut badai, terus bangkit lagi, walau apapun yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=148&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“<a href="http://www.pustakanilna.com/stop-dreaming-start-action">Stop Dreaming, Start Action</a>” Itulah kira-kira yang sedang banyak dikampanyekan berbagai blog saat ini. Pencetusnya adalah Jokosusilo.com<a rel="nofollow" href="http://jokosusilo.com/"> </a></p>
<p><em>Stop dreaming</em>? Apakah maksudnya berhentilah bermimpi? Bukankah bermimpi itu wajib, kalau kita ingin hidup di atas rata-rata? Bukankah hanya impian yang membuat diri kita kuat, bertahan, tak mudah menyerah, tak takut badai, terus bangkit lagi, walau apapun yang menghalangi? Bak Alif tak izin mati…</p>
<p>Bukankah impian adalah rahasia besar yang menggerakkan perubahan di berbagai belahan dunia ini? Bukankah impian adalah syarat nomor satu yang ditulis buku-buku suci para praktisi MLM dan Network Marketing?</p>
<p>Apa sebenarnya maksud Joko Susilo dengan <strong>stop dreaming start action</strong>? Apakah tak boleh kita bermimpi? Apakah bermimpi itu buruk? Bukankah bermimpi itu gratis? Mengapa perilaku <em>dreaming </em>harus kita stop! Siapa orang yang disuruh oleh Joko untuk stop dreaming itu? Apakah saya termasuk?</p>
<p>Bukankah sebenarnya yang saya lihat justru malah sebaliknya? Betapa banyak orang malah “takut bermimpi”, mengubur impiannya, memadamkan nyala nya yang mungkin sempat sesaat menyinari jalan hidupnya. Lalu hanya karena merasa gagal, akhirnya ia membunuh impiannya, lalu menguburnya dalam-dalam. Kepada kelompok ini ‘kan gak perlu disuruh<em> stop dreaming</em> … lha wong <em>dreaming </em>nya aja nggak pernah?</p>
<p>Kalau begitu pada siapa? Saya sempat juga memperhatikan ada sekelompok orang yang <strong>dreaming </strong>terus. Mereka selalu “memberi makan” <em>dreaming </em>nya, merawat <em>dreaming</em> nya begitu rupa, sehingga <em>dreaming </em>nya makin menyala, menggelegak, menggetarkan seluruh nadi dan ototnya, mendesakkan energi yang tiara tara. Orang-orang akan melihat mereka ini ia seperti “orang gila”.</p>
<p>Mereka tampak aneh di mata kebanyakan manusia. Mereka  sering meracau sendirian, bicara begitu semangat, tak kenal lelah, lupa waktu, lupa makan, lupa istri, lupa anak …. bahkan! Yang ada dalam ruangan hidupnya adalah <em>dreaming </em>nya. Mereka terus berjalan, walau terseok-seok, bergerak terus menuju impiannya. Namun memang jumlah”orang gila” ini amat sangat sedikit. Pada umumnya mereka tergolong orang yang tak puas berada dalam zona “<em>good life</em>” (kehidupan yang baik)  … mereka terus berenang menuju “<strong>great life</strong>” (kehidupan yang luar biasa).</p>
<p>Jadi, kalau begitu … berarti ‘kan <strong><em>dreaming </em></strong>itu penting! Tanpa dreams, kita sama saja dengan manusia rata-rata, dan hidup kita pun akan biasa-biasa saja. Lantas  mengapa Joko susilo mengampanyekan <strong><em>stop dreaming</em></strong>? Sebenarnya apa makna <em>stop dreaming</em> yang dia maksud? Sebagai salah satu tokoh kunci pebisnis online ulung yang malang melintang di jagad dunia internet Indonesia ini, tentulah ia punya pandangan khusus sehingga ia bisa sampai pada sari kesimpulan yang begitu mengkristal: <strong><em>STOP DREAMING START ACTION</em></strong>!</p>
<p>Barangkali, ia melihat begitu banyak orang hanya punya impian saja, tapi tak pernah berusaha meraihnya. Banyak sekali orang punya banyak keinginan, banyak kemauan, tapi tak pernah memulai langkah pertama. Tak mau membayar harganya. Banyak orang ingin sukses, tapi takut untuk gagal. Banyak orang ingin kaya, tapi tak pernah belajar bagaimana tumbuh menjadi personal yang “kaya”. Banyak orang ingin punya tubuh ideal, tapi tak pernah konsisten merawat tubuhnya. Banyak orang ingin freedom, ingin bebas dari masalah waktu dan finansial … tapi sangat kikir untuk menginvestasikan waktu dan uangnya. Banyak ibu yang ingin punya anak yang shaleh, tapi tak pernah memberi contoh bagaimana menjadi manusia yang shaleh. Ya, banyak sekali contoh-contoh disekitar kita …. Anda pasti tahu siapa-siapa saja orang-orangnya.</p>
<p>Kalau konteks nya seperti itu, saya kira Joko Susilo ada benarnya juga. Karena itulah ia seolah menghardik, “<strong><em>START ACTION</em></strong>!” Mulailah bekerja. Mulailah ambil tindakan. Ambil keputusan. Jangan tunda lagi. Lakukan dalam tindakan nyata. Jangan ngimpi doang, lakukan aja!</p>
<p>Selengkapnya baca artikel di pustaka nilna berjudul <a href="http://www.pustakanilna.com/stop-dreaming-start-action">Stop Dreaming Start Action</a>!</p>
Posted in Mindset, Opini Tagged: stop dreaming <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=148&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2009/06/23/berhentilah-bermimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pidato Severn Suzuki, 12 th di Ruang Sidang PBB</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2009/01/16/pidato-severn-suzuki-12-th-di-ruang-sidang-umum-pbb/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2009/01/16/pidato-severn-suzuki-12-th-di-ruang-sidang-umum-pbb/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 01:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[isu global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki. Seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ).
ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak-anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=126&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama <em>Severn Suzuki. S</em>eorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan <em>Enviromental Children’s Organization</em> ( ECO ).</p>
<p class="ep">ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak-anak <em>yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak</em> lain mengenai masalah lingkungan.</p>
<p>Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992. Pada saat itu, Seveern yg berusia 12 tahun, memberikan sebuah pidato yang sangat kuat yang memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.</p>
<p>Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun, hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, dan saat pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun itu?</p>
<p>Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber <em>The Collage Foundation</em> )<span id="more-126"></span></p>
<p><img title="foto saat pidato - usia 12 tahun" src="http://i415.photobucket.com/albums/pp237/talam1/severn-suzuki-earth-summit-rio-de-j.jpg" border="0" alt="foto saat pidato - usia 12 tahun" /></p>
<p>Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O &#8211; Enviromental Children Organization.</p>
<p>Kami Adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.</p>
<p>Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, <em>Hari ini Disini juga</em>. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.</p>
<p>Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.</p>
<p>Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.</p>
<p>Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. Kami tidak boleh tidak di dengar.</p>
<p>Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON.</p>
<p>Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.</p>
<p>Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya &#8211; hilang selamanya.</p>
<p>Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut  masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.</p>
<p>Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?</p>
<p>Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!</p>
<p>Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.<br />
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.<br />
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.</p>
<p>Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.</p>
<p>Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.<br />
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!</p>
<p>Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi &#8211; tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi &#8211; dan anda semua adalah anak dari seseorang.</p>
<p>Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama &#8211; perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.</p>
<p>Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.</p>
<p>Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.</p>
<p>Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.<br />
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.</p>
<p>Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan &#8211; kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.</p>
<p>Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”</p>
<p><em>Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?</em></p>
<p>Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.</p>
<p>Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.</p>
<p>Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.<br />
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.<br />
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak.</p>
<p>Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?</p>
<p>Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini &#8211; kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan “Semuanya akan baik-baik saja”, “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan” dan  “Ini bukanlah akhir dari segalanya”.</p>
<p>Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. <strong>Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?</strong></p>
<p>Ayah saya selalu berkata “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata-kata mu”</p>
<p>Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.</p>
<p>Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.</p>
<p>Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.</p>
<p align="center">***</p>
<p><em>Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. </em></p>
<p><em>Setelah pidato nya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.<br />
</em><br />
dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..</p>
<p>“<em>Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun</em> ”</p>
<p>Cerita ini benar-benar terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar-benar pidato yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih-lebihkan.</p>
<p>Ini link untuk videonya:<br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=TQmz6Rbpnu0" target="_blank"><span style="color:#333333;">YouTube &#8211; The girl who silenced the world for 5 minutes</span></a></p>
Posted in Wawasan Tagged: artikel lingkungan hidup, isu global <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=126&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2009/01/16/pidato-severn-suzuki-12-th-di-ruang-sidang-umum-pbb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i415.photobucket.com/albums/pp237/talam1/severn-suzuki-earth-summit-rio-de-j.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto saat pidato - usia 12 tahun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INIKAH NEGERIKU ?</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2008/12/01/inikah-negeriku/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2008/12/01/inikah-negeriku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 08:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Ada apa lagi tentang bangsa ini? Mengapa sangat sulit untuk diajak maju. Selalu saja ada “rasa itu”, ketika melihat saudara atau tetangganya sukses. Sebenarnya hal itu normal saja, tapi pada sebagian orang dan mungkin pada umumnya yang tidak kuat imannya akan terjerumus pada sifat pendengki dan iri untuk dapat menjatuhkan kesuksesannya.
Padahal toh tidak ada gunanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=116&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada apa lagi tentang bangsa ini? Mengapa sangat sulit untuk diajak maju. Selalu saja ada “rasa itu”, ketika melihat saudara atau tetangganya sukses. Sebenarnya hal itu normal saja, tapi pada sebagian orang dan mungkin pada umumnya yang tidak kuat imannya akan terjerumus pada sifat pendengki dan iri untuk dapat menjatuhkan kesuksesannya.</p>
<p>Padahal toh tidak ada gunanya buat yang menjatuhkan apalagi yang dijatuhkan. Bahkan sama-sama rugi. Bagi yang masih normal pikirannya, toh rejeki itu sudah ada yang mengatur kita tinggal menjalani, ikhtiar dan doa.</p>
<p>Lebih baik kita bersama-sama maju untuk membangun bangsa ini agar tak jauh tertinggal dengan bangsa lain. Bukan rasa egoisme yang harus maju, tapi rasa kebersamaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Tak perlu melihat bangsa lain yang sudah makmur dengan kebijakan ekonomi yang cenderung menyimpang dari apa yang sudah disyariatkan dalam agama.<span id="more-116"></span></p>
<p>Bukankah riba itu dilarang? Tapi mengapa justeru dalam perekonomian kita, riba menjadi acuan utama dalam laju mutlak perekonomian? Tak adakah kebijakan lain yang lebih “jelek” dari ini. Terkadang hasil dari riba yang tak seberapa itupun menjadi santapan para koruptor berdarah dingin bak tikus dalam kantor seperti yang pernah dinyanyikan oleh seorang musisi ulung.</p>
<p>Anehnya mereka justeru tertawa melihat hukum yang mandul. Bukannya mereka seharusnya menangis meraung-raung untuk menjalani hukuman pancung. Atau harus menunggu hukuman setengah abad bagi para pencuri ayam dilaksanakan, sedang para tikus itu paling cepat menjalani hukuman semalam tidur di sarangnya, besok kembali lagi menghirup uang rakyat.</p>
<p>Pilkada, Pilpres, Pil atau Wil. Sepertinya berita tentang bangsa ini hanya 20% yang patut untuk didengarkan, karena yang lain isinya negatif saja. Atau bagaimana seandainya pers dibubarkan saja? Jadi moral bangsa ini bisa benar-benar kelihatan. Apakah mereka memang benar-benar begitu atau hanya pengaruh dari media massa yang membuat kepribadian mereka berubah. Kadang pers juga harus instrospeksi tentang penyiaran yang telah dilakukan, bukannya malah meng-HAM kan kebebasan pers yang ujung-ujungnya keblablasan pers.</p>
<p>Lihat saja. Dari kasus Pilpres, memang pers berpengaruh penting dalam kondisi ini, yaitu memberikan informasi kepada rakyat selama proses pemilihan umum (Pemilu). Tapi sebaiknya pers juga tidak memberikan “bumbu-bumbu” supaya terlihat sedap, gurih dan renyah, karena mungkin hal ini akan mengganggu jalannya proses dari Pemilu itu sendiri.</p>
<p><strong>Penulis:<br />
</strong>Name: Kelixo de Ramirez<br />
Email: <a href="http://us.mc574.mail.yahoo.com/mc/compose?to=kelixo@gmail.com">kelixo@gmail.com</a><br />
Website: <a href="http://ww.acilovin.co.cc/" target="_blank">http://ww.acilovin.co.cc</a></p>
Posted in Opini Tagged: Opini <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=116&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2008/12/01/inikah-negeriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Editor Dalam Baskom</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2008/10/16/editor-dalam-baskom/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2008/10/16/editor-dalam-baskom/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 09:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan editor]]></category>
		<category><![CDATA[peran editor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[
oleh  Bambang Trim
Peran editor dalam dunia perbukuan di Indonesia sudah tidak dapat dikesampingkan lagi. Sebelumnya pada tahun 80-an, peran editor belumlah begitu dilirik. Para penerbit masih mengandalkan penulis untuk ikut berkontribusi memeriksa naskahnya sebagai editor maupun sekadar korektor (proofreader). Barulah pada pertengahan 90-an, editor benar-benar dianggap harus ada dan keberadaannya dibutuhkan karena makin maraknya dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=82&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="entry">
<p>oleh  Bambang Trim</p>
<p>Peran editor dalam dunia perbukuan di Indonesia sudah tidak dapat dikesampingkan lagi. Sebelumnya pada tahun 80-an, peran editor belumlah begitu dilirik. Para penerbit masih mengandalkan penulis untuk ikut berkontribusi memeriksa naskahnya sebagai editor maupun sekadar korektor (proofreader). Barulah pada pertengahan 90-an, editor benar-benar dianggap harus ada dan keberadaannya dibutuhkan karena makin maraknya dunia perbukuan Indonesia serta kesadaran akan peningkatan kualitas buku.</p>
<p>Popularitas editor yang terkerek naik juga tidak dimungkiri karena andil berdirinya Program Studi D3 Editing di Unpad pada 1988 dan diikuti Polikteknik Negeri Jakarta (dahulu Poltek UI) yang membuka program penerbitan. Para lulusannya berkiprah di beberapa penerbit besar dan menyuntikkan pemahaman baru tentang editologi serta ilmu penerbitan.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan penghasilan para editor? <span id="more-82"></span>Saya termasuk editor yang merintis karier pada pertengahan 90-an. Sungguh gaji editor saat itu tidak begitu jauh dengan gaji staf lainnya. Sebelum krisis, editor bergaji antara Rp300 ribu hingga Rp600 ribu dalam pasaran Bandung dan Jakarta. Pascakrisis tahun 2000-an, gaji editor ikut terangkat naik antara Rp800 ribu hingga kemudian peningkatan skill dan bargaining position yang semakin kuat, editor pemula bisa masuk dalam baskom alias barisan satu koma. Gaji editor pemula dimulakan dengan angka Rp1,1 juta hingga Rp1,5 juta untuk saat ini. Para senior editor ataupun managing editor kini bisa mengantongi gaji Rp2 juta hingga Rp5 juta untuk pasaran Bandung dan Jakarta.</p>
<p>Apakah kondisi ini memuaskan? Tentu dalam konteks peran dan posisinya yang strategis, gaji editor di Indonesia saat ini masihlah dalam batas minim karena umumnya hanya sekitar 30%-50% di atas upah minimum. Padahal, seorang editor kini dituntut memiliki keahlian dan keterampilan tidak hanya di bidang bahasa, tetapi juga di bidang desktop publishing, penulisan, negosiasi, komunikasi (public speaking), bahkan manajemen.</p>
<p>Di sisi lain, pada kenyataannya memang belum ada standar atau sertifikasi untuk kemampuan editor sehingga editor kemudian layak (menurut saya) memiliki rate atau gaji di atas Rp2 juta untuk pemula. Hal inilah yang kemudian menjadi komitmen Forum Editor Indonesia untuk segera mendata para personel editor dan kemudian menawarkan sertifikasi editor Indonesia bekerja sama dengan badan formal pemerintah, seperti Pusat Bahasa dan Pusat Perbukuan. Masalahnya kerapkali editor menuntut penghasilan besar, tetapi belum memahami betul profesionalitas, bahkan dasar-dasar editologi sebagai acuan kompetensinya.</p>
<p><strong>Tarif Editor Lepas</strong><br />
Tidak jauh dengan gaji editor tetap, tarif editor lepas di Indonesia pun masihlah belum dapat dikatakan besar. Tarif editor dalam pengertian melakukan mechanical editing kini berkisar antara Rp5.000-Rp7.000 per halaman. Tarif ini lebih rendah lagi untuk proofreader atau korektor yaitu antara Rp-Rp3.000-Rp4.000. Jikalau dilakukan editing standar dengan mechanical editing dan substantive editing, harga itu bisa mencapai di atas Rp10.000 per halaman. Tidak ada tarif resmi yang standar dari para editor lepas ini karena kadang-kadang hanya dikira-kira saja.</p>
<p>________________<br />
<em>ABOUT BAMBANG TRIM </em><br />
Praktisi perbukuan nasional. Kini menjabat sebagai Direktur SALAMADANI PUSTAKA SEMESTA, Dosen Luar Biasa Editing Unpad, dan Ketua Forum Editor Indonesia. Kontak: HP 08121466193;<br />
e-mail: bambangtrim@yahoo.com| blog : http://www.bambangtrim.com</p>
<ul class="sidebar_list">
<li class="widget widget_text"></li>
</ul>
</div>
Posted in Penerbitan Tagged: penghasilan editor, peran editor <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=82&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2008/10/16/editor-dalam-baskom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan “Mengikat Makna” untuk Menulis Karya Ilmiah, Mungkinkah?</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2008/08/12/memanfaatkan-%e2%80%9cmengikat-makna%e2%80%9d-untuk-menulis-karya-ilmiah-mungkinkah/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2008/08/12/memanfaatkan-%e2%80%9cmengikat-makna%e2%80%9d-untuk-menulis-karya-ilmiah-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 12:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[kiat menulis]]></category>
		<category><![CDATA[laporan]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hernowo &#124; www.mizan.com
“Anda harus menulis dan menyingkirkan sekian banyak materi sampah sebelum Anda akhirnya merasakan suasana yang nyaman.” Ray Bradbury
Ketika sesi tanya-jawab di acara Seminar Nasional “Menjadi Kaya dengan Menulis” berlangsung, ada dua pertanyaan menarik yang ditujukan kepada saya. Gara-gara saya dipanelkan dengan pembicara lain yang membahas bagaimana menulis karya ilmiah, materi yang saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=57&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Hernowo | <a href="http://www.mizan.com/">www.mizan.com</a></p>
<p>“<em>Anda harus menulis dan menyingkirkan sekian banyak materi sampah sebelum Anda akhirnya merasakan suasana yang nyaman.</em>” Ray Bradbury</p>
<p>Ketika sesi tanya-jawab di acara Seminar Nasional “<em>Menjadi Kaya dengan Menulis</em>” berlangsung, ada dua pertanyaan menarik yang ditujukan kepada saya. Gara-gara saya dipanelkan dengan pembicara lain yang membahas bagaimana menulis karya ilmiah, materi yang saya presentasikan menjadi seperti bertentangan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara lain tersebut. Dikarenakan tampak bertentangan itulah, akhirnya, muncul dua pertanyaan menarik tersebut.</p>
<p>Pertanyaan pertama terkait dengan judul tulisan saya ini. ”<em>Apakah kiat-kiat menulis yang saya tawarkan dapat digunakan untuk menulis karya ilmiah?</em>” Saya memahami sekali pertanyaan ini karena kiat-kiat saya seperti tak memiliki kerangka disiplin yang jelas, sementara menulis karya ilmiah perlu kerangka formal yang benar-benar sangat jelas.</p>
<p>Pertanyaan kedua masih nyambung dengan pertanyaan pertama, meski tak langsung, yaitu tentang terkesannya materi yang saya sampaikan bertentangan dengan materi pembicara kedua yang sepanel dengan saya. Saya menganjurkan menulis bebas, sementara pembicara kedua—karena menjelaskan bagaimana menulis karya ilmiah—sebaliknya, yaitu menganjurkan menulis karya ilmiah dengan beberapa aturan yang sudah disepakati oleh kalangan akademisi.</p>
<p>Apa jawaban saya?</p>
<p><strong>Apa Sih Menulis Itu?<br />
</strong>Saya menegaskan bahwa materi yang saya sampaikan tidak bertentangan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara kedua. Ketika ada dua orang sedang menjalankan kegiatan menulis—yang satu menulis karya ilmiah, sementara yang satunya menulis bukan karya ilmiah—kondisinya sama. Artinya, kedua orang itu sama-sama menggunakan alat-alat tulis yang tidak berbeda, seperti komputer (laptop), mesin ketik, atau alat-alat tulis lain. Kemudian, pada intinya, menulis itu—sekali lagi apa pun jenis tulisan yang ditulis seseorang—adalah kegiatan merangkai huruf menjadi kata, kalimat, paragraf yang terstruktur dan punya makna.<span id="more-57"></span></p>
<p>Kiat-kiat yang saya susun dan tawarkan kepada publik berangkat dari sini. Bahkan ketika saya menawarkan konsep ”brain-based writing”, meskipun dua orang yang sedang menulis itu menjalankan kegiatan menulis dengan materi yang ditulisnya berbeda, saya tetap menganggap bahwa kedua orang itu tetap menggunakan komponen-komponen otak yang sama saat menulis. Benar bahwa tulisan yang dihasilkan itu punya kadar yang berbeda. Namun, sekali lagi, ketika keduanya sedang menjalani kegiatan menulis, ya kondisi dirinya sama, tidak berbeda.</p>
<p>Nah, buku-buku saya yang membicarakan kiat-kiat menulis, sesungguhnya menampung semacam riset kecil-kecilan saya terkait dengan hal-hal mendasar ihwal menulis. Saya menemukan bahwa ada dua ruang untuk menulis. Dua ruang itu bernama ”ruang privat” dan ”ruang publik”. ”Ruang privat” sifatnya sangat pribadi dan hanya individu yang menulis itulah yang eksis, sementara ”ruang publik” adalah ruang di mana individu itu harus mengikuti aturan pihak lain ketika menulis. ”Ruang privat” ini sifatnya subjektif, dan ”ruang publik” itu objektif.</p>
<p>Dua ruang itu sangat logis. Ketika saya belum tahu dan belum membedakan secara sangat tegas kedua ruang untuk menulis itu, saya mencampur dua ruang tersebut. Efeknya luar biasa. Saya tidak nyaman dalam menulis. Kadang, bahkan, saya tersiksa ketika menulis. Yang membuat saya frustrasi adalah saya kemudian seperti terbebani ketika menulis karena dua ruang itu saya campur. ”Berat sekali ya menulis itu?” Demikianlah. Hal ini dikarenakan saya tidak dapat bebas menulis dan senantiasa cemas apakah tulisan saya sudah objektif (memenuhi kaidah) atau belum.</p>
<p>Ternyata, setelah saya mendengar riset Roger Sperry yang membuktikan manusia punya dua belahan otak—kiri dan kanan—dan masing-masing belahan itu berfungsi secara sangat berbeda, dua ruang yang saya ciptakan itu ternyata sesuai dengan masing-masing fungsi belahan otak. Otak kiri, yang suka mengoreksi, berpikir secara rasional, tertib, dan satu-satu. Otak kanan, sebaliknya, suka dengan kebebasan, berpikir menyeluruh, dan loncat-loncat. Alangkah klopnya jika, pada saat awal menulis, kita menggunakan otak kanan dan mempersepsi sedang menulis di ”ruang privat” di mana subjektivitas kita sangat menonjol.</p>
<p>Jadi, ketika kita mengawali menulis, kita bebaskan lebih dulu diri kita dari jeratan aturan menulis yang telah ada di benak kita. Dalam menjalani kegiatan menulis, kita benar-benar melibatkan keinginan, harapan, dan kemampuan kita. Kegiatan menulis ini tidak datang dari luar, tetapi dari dalam. Jadi, ketika kita menulis di ”ruang privat”, kita mengendalikan semua hal yang ingin kita tulis dan kita menggunakan cara-cara yang memang sesuai dengan kemampuan kita. Saya yakin, jika kita dapat mengawali menulis seperti ini, kita tentu bisa menikmati kegiatan menulis.</p>
<p>Sekali lagi, di ”ruang privat”, kita bebas menulis apa saja. Setelah menghasilkan tulisan, tulisan yang sudah jadi itu pun tidak buru-buru kita koreksi. Karena, ingat, menulis di ”ruang privat” adalah menulis dengan otak kanan yang bebas, yang menyeluruh. Kita menumpahkan segalanya lebih dulu. Kita mengalirkan apa pun yang bisa kita alirkan. Kita harus benar-benar merasa plong atau lega ketika selesai mengalirkan semua yang ingin kita tulis. Inilah kegiatan menulis di ”ruang privat”. Dan itu bisa dijalankan siapa saja dan bisa untuk menulis materi apa saja termasuk materi yang berkadar karya ilmiah.</p>
<p>Memang, menulis di ”ruang privat” baru separo jalan. Sifatnya pun masih subjektif meski, kelebihannya, bahan yang ditulis benar-benar milik diri pribadi yang menulis. Masih ada separo jalan lagi, yaitu menulis di ”ruang publik” atau menulis secara objektif, menulis yang disesuaikan dengan aturan yang diciptakan oleh orang atau lembaga lain. Namun, saya yakin, menulis di ”ruang publik” akan jauh lebih mudah dan ringan jika diawali dengan menulis di ”ruang privat”.</p>
<p>”Mengikat Makna” untuk Menulis Karya Ilmiah<br />
Apa yang saya jelaskan di atas merupakan bagian kecil dari kiat-kiat yang saya himpun di dalam konsep menulis yang saya namakan dengan ”mengikat makna”. Hukum utama ”mengikat makna” adalah tidak memisahkan kegiatan membaca dengan menulis. Anda akan menjadi mudah dan ringan dalam menulis—apa pun yang ingin Anda tulis, termasuk menulis karya ilmiah—apabila memadukan kegiatan membaca dan menulis. Menulis memerlukan membaca dan membaca memerlukan menulis. Saya kira ini pasti sesuai dengan aturan objektif di dalam menulis karya ilmiah.</p>
<p>”Mengikat makna”, jika diikuti dengan benar, akan membuat seseorang yang sedang menulis karya ilmiah akan mampu menulis karya ilmiahnya dengan bahasa yang mengalir, tidak kaku, dan enak dibaca. Sebagaimana pernah saya ulas di buku saya, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (MLC, 2005), ketika saya mendefinisikan buku-buku yang mengalir, yang saya rujuk, meski tak 100% buku ilmiah, adalah buku-buku yang ditulis dengan ”semangat” ilmiah. Artinya, buku itu ditulis dengan bertanggung jawab dan referensinya sangat jelas.</p>
<p>Menurut pengamatan saya, buku-buku yang dikategorikan buku ilmiah, menjadi sangat kaku, kering, dan kadang membosankan karena si penulis karya ilmiah itu tidak memiliki keterampilan menulis (jarang berlatih menulis bebas) dan miskin dalam kosakata (jarang membaca buku yang beragam). Saya yakin, jika si penulis karya ilmiah itu rajin berlatih menulis bebas, lantas menguasai persoalan yang dikajinya, dan kaya akan kata-kata, pastilah karya ilmiahnya bisa mengalir, enak dibaca, dan tidak membosankan. Saya menciptakan konsep-konsep dan kiat-kiat membaca dan menulis dengan tujuan agar sebuah buku—termasuk buku yang masuk kategori karya ilmiah atau buku pelajaran—dapat disajikan dalam bahasa yang mengalir dan enak dibaca.</p>
<p>Jadi, ”mengikat makna” ingin membantu siapa saja yang berniat menulis karya ilmiah agar karyanya itu berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Karya ilmiahnya menjadi karya yang menerobos, yang mengasyikkan jika dibaca, dan memberikan banyak sekali manfaat. Sayang kan jika kita sudah memiliki potensi untuk membuat karya ilmiah atau sudah menuntut ilmu hingga jenjang yang sangat tinggi, akhirnya, gara-gara terperangkap oleh aturan objektif menulis karya ilmiah yang sudah digariskan, kita (orang-orang yang sangat berpotensi) kemudian terkendala dalam membuat buku atau malah menjadi malas untuk menulis hal-hal yang sederhana.</p>
<p>Nah, sebagai contoh kecil, cobalah ikuti saja saran saya dengan, pertama-tama, membuat dua ruang untuk menulis di dalam benak kita sebagaimana saya jelaskan di atas. Menulislah lebih dahulu secara sangat bebas di ”ruang privat”. Biasakan untuk ”membuang” apa saja setiap hari, lewat menulis bebas, di ”ruang privat”. Hasil tulisan yang lahir di ”ruang privat” ak usah buru-buru dikoreksi, yang penting buang saja—apa pun materi itu termasuk materi-materi yang berkategori ilmiah yang belum teruji benar. Kumpulkan semua bahan tulisan yang masih kasar itu dengan telaten hari demi hari, mingu demi minggu, bulan demi bulan. Menulislah dengan bebas secara mencicil. Menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis untuk menghasilkan tulisan yang baik adalah dengan menulis mencicil. Nanti, kalau sudah cukup banyak, mulailah ditata dan masuklah ke ”ruang publik”. Baca kembali tulisan-tulisan yang masih berantakan itu dan kelompokkan. Gunakan otak kiri untuk menata dan mengoreksinya. Baca buku-buku referensi untuk membuat tulisan tersebut menjadi objektif. Bandingkan dengan tulisan atau buku-buku lain. Saya yakin, jika kegiatan menulis sebagaimana yang saya tawarkan dapat dijalankan secara perlahan dan sedikit demi sedikit, tentulah menulis itu dapat dinikmati dan tidak membebani. Itulah tujuan ”mengikat makna” dan kiat-kiat menulis yang saya ciptakan.</p>
<p>Saya percaya bahwa ada materi yang termasuk karya ilmiah yang tidak bisa dijabarkan lewat kata-kata yang mengalir dan enak dibaca. Apalagi jika materi itu berisi data dengan tabel dan grafik yang banyak. Namun, sekali lagi, saya yakin bahwa semua itu bisa disiasati oleh para penulis yang memiliki keterampilan menulis dan kaya akan kata-kata. Saat ini telah banyak buku-buku yang bisa dikategorikan ilmiah tapi disajikan dengan bahasa tulis yang enak dinikmati. Buku karya Daniel Goleman, Emotional Intelligence, yang sarat dengan riset-riset ilmiah, ternyata bisa disajikan dengan gaya bercerita. Ada kemungkinan, buku Goleman ini tidak murni ilmiah, tapi masuk kategori ilmiah populer.</p>
<p>Saya setuju saja jika buku Goleman dimasukkan dalam kategori tidak murni ilmiah, tapi semi ilmiah atau ilmiah populer. Tetapi, ayolah para sarjana dan cendekiawan Indonesia! Bergairahlah untuk menulis dan membuat buku-buku yang tidak usah ilmiah tetapi dapat dipertanggungjawabkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.[]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/internalmedia.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/internalmedia.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=57&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2008/08/12/memanfaatkan-%e2%80%9cmengikat-makna%e2%80%9d-untuk-menulis-karya-ilmiah-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Surat Pembaca</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2008/07/15/menulis-surat-pembaca/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2008/07/15/menulis-surat-pembaca/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 15:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[kiat menulis]]></category>
		<category><![CDATA[surat pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Kolom Surat Pembaca di media koran atau majalah menjadi peluang bagi kita untuk berkomentar seputar berita hangat atau opini yang dimuat dalam sebuah media terkait.
Petunjuk dan aturan berikut umum berlaku pada sebagian besar media massa:

isi padat dan singkat (sekitar 250 kata atau kurang)
biodata harus jelas dan lengkap. Seperti nama lengkap, alamat rumah, dan nomor telpon.
tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=53&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kolom Surat Pembaca di media koran atau majalah menjadi peluang bagi kita untuk berkomentar seputar berita hangat atau opini yang dimuat dalam sebuah media terkait.</p>
<p>Petunjuk dan aturan berikut umum berlaku pada sebagian besar media massa:</p>
<ul>
<li>isi padat dan singkat (sekitar 250 kata atau kurang)</li>
<li>biodata harus jelas dan lengkap. Seperti nama lengkap, alamat rumah, dan nomor telpon.</li>
<li>tidak memakai attachment. Tulis langsung dalam email.</li>
<li>di subject email tulis “Surat Pembaca”.</li>
<li>media berhak untuk mengedit, menyingkat atau menolak surat Anda.</li>
<li>Surat Anda harus eksklusif pada satu media. Jangan dikirim ke media lain kecuali kalau jelas di media tsb.</li>
<li> Sebagian media seperti KOMPAS biasanya mengontak Anda (via email) apabila tulisan Anda ditolak.</li>
<li>Surat terbuka yg ditujukan ke pihak ketiga, misalnya ke perusahaan atau layanan tertentu, disebagian media biasanya ditolak.</li>
</ul>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Umumnya media massa cetak di Indonesia baik koran atau majalah alamat email untuk surat pembaca sama dg alamat email untuk mengirim tulisan. Anda bisa melihat daftar emailnya di link di bawah. Untuk media massa cetak Indonesia <a href="http://afatih.wordpress.com/tip-menulis/"><span style="color:#333333;">lihat di sini</span></a></p>
<p>Sedangkan di media berbahasa Inggris luar negeri, email untuk mengirim Surat Pembaca dan artikel op-ed berbeda. <span id="more-53"></span></p>
<p><strong>Berikut alamat email Surat Pembaca media berbahasa Inggris luar negeri</strong><br />
(data ini tidak lengkap, silahkan ditambah di komentar apabila Anda punya alamat email Surat Pembaca media luar negeri yg lain):</p>
<p>Globe and Mail<br />
E-mail: letters@globeandmai l.com<br />
Fax: 416.585.5085</p>
<p>National Post<br />
E-mail: letters@nationalpos t.com<br />
Fax: 416.442.2209<br />
Tel: 416.383.2300</p>
<p>Local Media<br />
Vancouver Sun<br />
E-mail: sunletters@png. canwest.com<br />
Fax: 604.605.2522<br />
Tel: 604.605.2184</p>
<p>Vancouver Province<br />
E-mail: provletters@ png.canwest. com<br />
Fax: 604.605.2099<br />
Tel: 604.605.2029</p>
<p>Georgia Straight<br />
E-mail: letters@straight. com<br />
Fax: 604.730.7010</p>
<p>Other Canadian Media<br />
Toronto Star<br />
E-mail: lettertoed@thestar. ca<br />
Fax: 416.869.4322</p>
<p>Montreal Gazette<br />
E-mail: letters@thegazette. canwest.com<br />
Fax: 514.987.2639<br />
Tel: 514.987.2579</p>
<p>Ottawa Citizen<br />
E-mail: letters@thecitizen. canwest.com</p>
<p><strong>Sumber:<br />
</strong><a href="http://afatih.wordpress.com/2006/09/08/menulis-surat-pembaca/">http://afatih.wordpress.com/2006/09/08/menulis-surat-pembaca/</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/internalmedia.wordpress.com/53/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/internalmedia.wordpress.com/53/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=53&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2008/07/15/menulis-surat-pembaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dalam Era Kolaborasi Ini, Anda Dimana?</title>
		<link>http://internalmedia.wordpress.com/2008/06/30/dalam-era-kolaborasi-ini-anda-dimana/</link>
		<comments>http://internalmedia.wordpress.com/2008/06/30/dalam-era-kolaborasi-ini-anda-dimana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 05:47:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intermedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[wikinomics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://internalmedia.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[oleh  : Nilna Iqbal &#8211; PustakaNilna.com
Desember 2006 lalu, Dan Tapscott dan Anthony D. Williams meluncurkan sebuah buku yang menghebohkan dunia. Ia jadi bahan pembicaraan di ratusan seminar dan diulas berbagai media massa dunia. Buku itu berjudul Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything.
Dalam buku itu, Tapscott menyadarkan dunia bahwa di masa depan, peran institusi bisnis maupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=51&subd=internalmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh  : Nilna Iqbal &#8211; <a href="http://pustakanilna.com" target="_blank">PustakaNilna.com</a></p>
<p>Desember 2006 lalu, Dan Tapscott dan Anthony D. Williams meluncurkan sebuah buku yang menghebohkan dunia. Ia jadi bahan pembicaraan di ratusan seminar dan diulas berbagai media massa dunia. Buku itu berjudul <em>Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything</em>.</p>
<p>Dalam buku itu, Tapscott menyadarkan dunia bahwa di masa depan, peran <em>institusi </em>bisnis maupun sosial akan semakin berkurang dan mendapat tantangan besar dari para <em>individu</em> yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK).</p>
<p>Tapscott memberi contoh, bagaimana sebuah institusi bisnis bisa diselamatkan oleh sejumlah individu. Perusahaan tambang <a href="http://goldcorp.com/" target="_blank">GoldCorp</a> yang berbasis di Kanada, misalnya, kehilangan akal untuk menafsirkan peta potensi tambang emas yang mereka miliki sejak 1948. Litbang GoldCorp yang terdiri dari para geolog ulung, menyerah kalah ketika diminta menghitung potensi emas, maupun mencari metoda eksploitasinya.</p>
<p>Perusahaan ini nyaris bangkrut hingga pada suatu hari sang CEO mengundang rapat internal penting yang mengubah masa depan perusahaan secara drastis. Rob McEwen, sang CEO, terinspirasi oleh Linus Thorvald (pencipta sistem terbuka Linux), mengumumkan kepada seluruh ahli geologinya untuk menggali semua informasi ladang mereka sejak 1948 dan menyebarkannya secara bebas melalui Internet. <em>Tujuannya</em>: mendapatkan masukan dari ahli geologi dunia mengenai identifikasi ladang-ladang produktif dengan kompensasi imbalan menarik.</p>
<p>Ini sebuah fenomena dahsyat, <span id="more-51"></span>karena umumnya perusahaan pertambangan mempertahankan data ladangnya secara rahasia. Tapi, McEwen beda. Ia malah membuka kesempatan kepada siapa pun di luar GoldCorp di seluruh dunia untuk menafsirkan peta itu.</p>
<p>Tidak terlalu lama, ribuan orang melalui internet memberikan masukan-masukan. Ada geolog, militer, ahli intelijen, sampai anak kecil yang memberikan ide melalui internet. Akhirnya GoldCorp selamat dari kebangkrutan. Kini, setiap satu dollar yang ditanam GoldCorp pada 1990, pada 2006 sudah menghasilkan 3000 dolar. Saham perusahaan ini pun naik.</p>
<p>Ya, McEwen sukses dengan menerapkan apa disebut sebagai <em>strategi kolaborasi</em>. Tidak hanya GoldCorp, perusahaan-perusahaan lain pun kini banyak yang mengandalkan individu maupun institusi di luar perusahaan untuk melakukan proses produksinya. Sebut saja Nestle, Protect and Gamble, Nike, Telkomsel, dan lain-lain.</p>
<p>Itu pula yang dilakukan <a href="http://www.slimdevices.com/" target="_blank">Slim Devices Inc.</a> yang menerapkan model <em>open organization.</em> Tak seperti perusahaan lain yang umumnya memiliki divisi riset &amp; pengembangan (R &amp; D) elite, berlimpah uang dan tertutup, perusahaan elektronik konsumer yang berbasis di Mountain View, California, ini justru menyerahkan R &amp; D-nya kepada konsumen dan masyarakat luas, bahkan dari seluruh penjuru dunia. Mereka yang berada di luar perusahaanlah yang berimajinasi sekaligus mendesain produk. Baru setelah itu, awak Slim mengombinasikan seluruh ide yang masuk untuk diproduksi dan dilemparkan ke pasar. </p>
<p>Menggunakan SlimServer software yang bisa diunduh gratis, Sean mengundang para desainer dan pengembang alat elektronik berjiwa merdeka untuk saling berdiskusi membangun peranti audio. Tak hanya berdiskusi, mereka pun dipersilakan memodifikasi sampai produk benar-benar keren menurut mereka.</p>
<p>Ternyata produknya laris manis dan dengan model bisnis seperti ini, tahun 2006 lalu Slim sanggup meraup pendapatan US$ 10 juta. Tak heran, pujian pun menghampiri. Perusahaan ini disebut mengembangkan model bisnis open source laiknya Linux, Mozilla dan Wikipedia. Bahkan, besutan Sean Adam ini disebut-sebut sebagai prototipe perusahaan masa depan sekalipun mungkin tak serevolusioner Linux yang merepotkan Windows, Mozilla yang bikin deg-degan Internet Explorer, dan Wikipedia yang telah menghancurkan Encyclopedia Britanica.</p>
<p>Ke depan, model kolaborasi inilah yang akan semakin menguat, yang oleh Tapscott disebut sebagai <em>Wikinomics,</em> sebuah istilah bagi <em>era partisipasi dan kolaborasi</em> manusia dalam dunia ekonomi dan bisnis.</p>
<p>Sekarang banyak sekali perusahaan yang menggunakan source atau sumber-sumber dari berbagai belahan dunia lain untuk membangun komunikasi global. Mereka mengundang siapa pun untuk turut menyumbangkan pemikirannya. Untuk industri misalnya, <a href="http://innocentive.com/" target="_blank">Innocentive.com </a>mengundang setiap pihak untuk memberikan inisiatif, dan pemecahan terhadap persoalan industri. Tentu dengan janji imbalan yang menggiurkan.</p>
<p>Di masa lampau, kata Don Tapscott dan Anthony D Williams, kolaborasi dilakukan dalam skala yang belum meluas. Hal ini terjadi dalam hubungan pertemanan, perkumpulan antaranggota keluarga, persaudaraan komunitas, dan solidaritas antarpekerja.</p>
<p>Secara perlahan, kolaborasi mulai menyentuh skala yang lebih melebar, sebab ada solidaritas atau ikatan kerja sama yang meluas dalam lingkup kontrak sosial untuk tolong-menolong, berbagi rezeki, dan risiko. Tapscott dan Williams mengatakan pula, perkembangan akses teknologi informasi memudahkan orang membangun kolaborasi, menciptakan nilai, dan berbagi kesempatan dalam dinamika yang membaru. Hal ini memberi ruang gerak yang lebih luas kepada setiap orang ikut serta menciptakan inovasi dan aset dalam aneka sektor ekonomi. Aneka kolaborasi secara terbuka pun mulai menciptakan aneka produk yang makin bermakna dan memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi. Kolaborasi secara massal dalam bidang ekonomi inilah yang dilihat sebagai dasar pijakan dari wikinomics.</p>
<p>Kini orang membagi pengetahuan, menghitung kekuatan, dan aneka sumber daya lain untuk menciptakan barang dan jasa, yang mana setiap orang dapat menggunakan atau memodifikasinya. Misalnya, mereka membuat berita-berita televisi, memperindah musik favorit mereka, mendesain software, menemukan resep untuk mencegah dan mengobati aneka penyakit, mengedit naskah, menginventarisasi kosmetik-kosmetik baru, dan bahkan membuat sepeda motor.</p>
<p>Contoh nyata adalah Wikipedia. Situs ensiklopedi ini memungkinkan siapa saja memberikan entry data ke dalam situsnya untuk menambah isi kamus online ini asalkan sesuai ketentuan. Orang-orang yang mengurus situs ini, dalam berbagai versi, adalah orang-orang yang mungkin bukan merupakan “orang dalam” pembuat situs ini tetapi mereka yang antusias dalam menambahkan content dari kamus di dunia maya ini.</p>
<p>Artinya, dapat dikatakan, di masa mendatang, individu-individu (khususnya yang punya kemampuan teknologi informasi dan komunikasi) akan lebih banyak diundang menyelesaikan persoalan-persoalan dunia.Mereka akan dilibatkan dalam empat sharing: <em>process sharing, profit sharing, cost sharing, bahkan pain sharing</em>.</p>
<p>Tentu saja individu yang berhak ikut dalam empat sharing ini adalah individu yang tidak hanya sekadar konsumen informasi, tetapi juga mereka yang perilakunya sudah menjadi produsen informasi, atau dalam bahasa Tapscott disebut dengan<em> prosumen</em>, yaitu produsen sekaligus konsumen informasi. Mereka adalah orang-orang yang akan menjadi tulang punggung sosial ekonomi berbasis TIK.</p>
<p>Yang dibutuhkan adalah komputer, koneksi jaringan, dan pijar-pijar inisiatif dan kreativitas untuk masuk dalam ekonomi. Kolaborasi baru ini bahkan tidak hanya melayani kepentingan komersial, tetapi juga membantu masyarakat melakukan aneka kegiatan untuk kepentingan publik, seperti mencegah penyakit, memperkirakan perubahan iklim global dalam menghadapi bencana alam, gempa bumi, tanah longsor, banjir, maupun upaya menemukan planet dan bintang baru.</p>
<p>Ada 4 prinsip dasar dalam gejala wikinomics yang mutlak harus ada, dan ini merupakan fenomena internet dewasa ini, yaitu keterbukaan (<em>openness</em>), kerja sama (<em>peering</em>), berbagi (<em>sharing</em>), dan bertindak global (<em>acting globally</em>). Bila satu dari empat hal ini tidak dipenuhi, hasil yang diharapkan tidak akan tercapai.</p>
<p>Lalu, bagaimana memanfaatkan semua perkembangan itu bagi diri kita? Alkisah ada <em>Werner Mueller</em>, ahli kimia yang bekerja di <em>Hoechst Celanese</em>. Ia mencintai kimia melalui penelitian. Karena keberhasilannya di bidang itu, dia mendapatkan promosi. Setiap mendapatkan promosi, dia sedih karena pekerjaanya menjadi bersifat manajerial dan jarang meneliti. Saat pensiun ia melakukan hal yang dia cintai: penelitian dan pertukangan.</p>
<p>Suatu hari sebuah perusahaan farmasi memerlukan rancangan produk baru untuk dipasarkan. Gagasan sangat diperlukan dan perusahaan itu mem-<em>posting</em> masalahnya di <em>InnoCentive</em>. Werner berpartisipasi dan dia berhasil sehingga berhak mendapatkan imbalan US$ 25,000. Dengan cara seperti ini dia bisa hidup berkecukupan.</p>
<p>Tentu saja, Anda tidak perlu harus menjadi ahli kimia untuk bisa turut berkolabarasi.  Dalam posisi apapun anda sekarang, melalui internet ini, anda pasti bisa!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/internalmedia.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/internalmedia.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/internalmedia.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/internalmedia.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/internalmedia.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/internalmedia.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/internalmedia.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/internalmedia.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/internalmedia.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/internalmedia.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/internalmedia.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/internalmedia.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=internalmedia.wordpress.com&blog=1272837&post=51&subd=internalmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://internalmedia.wordpress.com/2008/06/30/dalam-era-kolaborasi-ini-anda-dimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61a1bc2fc1660681895bac7abda6d731?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intermedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>